Berikut tahapan cara menggunakan Add-in Toolbox Convert GPSFile to SHP yang bisa digunakan untuk melakukan konversi GPX to SHP dan KML to SHP.
- Download gratis Add-in Toolbox Convert GPSFile to SHP DISINI.
- Extract di directory yang mudah di kenali, atau buat folder baru misalnya kml2shp.
- Buka ArcMap, tambahkan Convert GPSFile to SHP ke dalam Toolbox dengan cara:
- Klik kanan pada ruang kosong di Toolbox, pilih Add Toolbox
- Browse ke directory tempat Anda meng-ekstrak Add-in Toolbox Convert GPSFile to SHP, temukan fileGPSFile_to_SHP.tbx. Klik OK, maka Anda akan mendapati Toolbox baru dengan nama Convert GPSFile to SHP.
- Kini Anda siap untuk melakukan konversi dari GPX to SHP atau KML to SHP di ArcGIS 10. Double click salah satu script (sesuai kebutuhan Anda) Convert GPX to SHP atau Convert KML to SHP , maka akan muncul form isian untuk menentukan input file yang akan di konversi, menentukan Feature Type-nya (point / polyline / polygon), serta menentukan output file-nya. Klik OK jika isian Anda sudah sesuai.
Catatan penting untuk Add-in Toolbox Convert GPSFile to SHP ini :
- File hasil konversi selalu memiliki sistem proyeksi geographic.
- Tidak bisa meng-konversi KMZ file. Anda harus extract KMZ to KML terlebih dahulu, bisa menggunakan software 7ZIP atau yang lain. Biasanya menghasilkan file dengan nama doc.kml
- Script tidak bisa konversi KML yang dihasilkan oleh Google Maps, walaupun sudah di save ulang di Google Earth. Anda harus digitasi ulang KML dari Google Maps di Google Earth untuk bisa meng-konversi menggunakan tool ini.
- Tool ini masih bisa digunakan di ArcGIS 9.3 / 9.3.1
Berikut adalah tahapan membangun geodatabase di ArcGIS 10 :
- Membuat Geodatabase.
Buka ArcCatalog kemudian pada klik kanan pada folder yang telah kita tentukan pilih New–> File Geodatabase atau Personal Database.
Maka akan tampil New File Geodatabase
Rename geodatabase tersebut sesuai nama yang Anda inginkan. Pada tutorial ini saya memberi nama geodatabase dengan nama Ternate, karena saya akan mencoba membuat geodatabase untuk Pulau Ternate.
Langkah selanjutnya membuat feature dataset pada geodatabase yang telah dibuat sebelumnya (Ternate.gdb) klik kanan –> New –> Feature Dataset. Isi nama feature dataset tersebut serta tentukan sistem koordinatnya.
Untuk Z coordinate system, pilih None kecuali Anda ingin membuat peta 3D dengan geodatabase, sementara X Y tolerance untuk default saja.
Setelah feature dataset selesai dibuat, selanjutnya mulai membuat feature class berupa point, polyline, dan polygon. Klik kanan pada Feature Dataset –> New –> Feature Class.
Isikan nama dan alias serta pilih jenis feature (point, polyline atau polygon). Jika output peta atau data yang Anda inginkan berupa peta 3D dan rute atau Anda akan menganalisa menggunakan network analysis, maka centang M values dan Z values seperti pada gambar ditunjukkan dengan tanda kotak merah di atas.
Untuk membuat feature class yang lain, lakukan tahapan seperti yang ditunjukkan diatas. Dengan cara yang sama saat digitasi pada shapefile. Klik Editor –> Start Editing, Anda bisa memulai digitasi seperti contoh gambar dibawah.
- Import feature class kedalam Geodatabase
Selain membuat feature class Anda juga bisa melakukan import feature class baik berupa shapefile, tabel atau lainnya kedalam geodatabase.
Saya contohkan membuat geodatabase baru dengan nama “Infrastruktur.gdb” dan menambahkan data yang akan di import.
Sengaja saya membuat geodatabase baru untuk memperlihatkan apakah geodatabase bisa memiliki feature dataset jika data yang kita kelola sedikit dan tidak memerlukan pengelompokan populasi data.
Pada geodatabase (infrastruktur.gdb) klik kanan –> Import –> Feature Class Multiple (jika data yang anda ingin import lebih dari satu).
Klik open data dan pilih data yang Anda ingin import kedalam geodatabase kemudian klik OK dan tunggu proses selesai.
Selain cara di atas ada cara lain untuk mengimport feature class (shapefile) kedalam geodatabase.Klik kanan pada shapefile yang akan kita eksport kedalam Geodatabase –>Data –> Export Data.
Sumber: ir1gisplan.wordpress.com inigis.com
Corner
ruler (atau nama lainnya adalah Roamers) adalah alat bantu untuk mengetahui koordinat titik pada
lembar peta.
Langkah-langkah dalam
penggunaan corner ruler itu sendiri
ialah:
1. Tempelkan
titik di peta dengan titik nol (0) pada corner
ruler. Pastikan penempatan corner
ruler pada karvak tadi dari angka yang lebih kecil ke angka yang lebih
besar.
Gambar, 4 Penggunaan corner ruler
1. Lihat
garis pada corner ruler yang berimpit
dengan karvak.
2. Baca
angkanya.
(*) Terlihat koordinat
adalah (S 030 29’ 20” dan
T 1140 46’ 10”)
Yang
perlu diperhatikan pada saat pembacaan koordinat serta penggunaan corner ruler tersebut adalah nilai angka
yang tertera pada peta itu sendiri. (nilai Selatan dan Timur).
Pembacaan kordinat peta
disini mengacu pada peta apa yang ingin kita pakai bersama GPS. Peta secara
global menggunakan koordinat UTM (Universal Transverse Mercator) dan latitude dan longitude (lat/lon).
Untuk
dapat membaca koordinat peta, peta tersebut harus lengkap beserta penomoran
angka koordinat pada karvak peta.
Karvak
ialah kotak bujur sangkar hasil pemotongan garis-garis khayal vertikal dan
horizontal yang membagi medan pada peta.
Pembacaan kordinat yang
akan dijelaskan yaitu:
1. UTM
2. Latitude
dan Longitude (Lat/Lon)
1.1 kordinat
UTM
Koordinat yang
menggunakan satu satuan jarak (meter) dalam pembacaannya, serta sistem yang
menggunakan zona-zona. Ada 60 zona di dunia dalam koordinat UTM tersebut, untuk
Kalimantan Selatan kena zona 50M.
Sistem Grid UTM Global
Pembacaan koordinat UTM adalah dengan cara melihat
angka pada koordinat mT (sumbu X) dan mU (sumbu Y) pada bagian samping dan
bagian atas peta , dengan menghubungkan koordinat mT dan mU maka akan didapat
suatu koordinat keberadaan titik (lokasi).
1.2
Latitude
dan longitude
Koordinat bujur
dan lintang dalam bahasa ingrisnya yaitu
latitude dan longitude (lat/lon) atau geografis. Koordinat Lat/lon menggunakan
sistem lintang dan bujur dengan satuan derajat, menit dan detik.
- kordinat lintang nol derajat (utama) yaitu garis
ekuator/khatulistiwa, garis ini kena kota pontianak.
- Kordinat bujur nol deajat (utama)yaitu garis
yang tepat kena kota greenwich inggris.
Pertemuan garis ini atau kordinat nol nol
derajat berada di laut pasifik.
Selain format posisi koordinat (UTM/GEOGRAFIS) tadi,
hal yang penting lainnya adalah tentang DATUM peta. Karena jika datum peta
berbeda maka koordinat juga akan berbeda walaupun kita berdiri di tempat yang
sama. Dalam penjelasan beberapa dosen ataupun praktisi mungkin sedikit susah
dipahami bila kita tidak punya dasar ilmu geografi. Datum itu sendiri hanya referensi
permukaan yaitu parameter acuan untuk mendefinisikan geometri ellipsoid bumi,
jadi sederhanya kita analogikan saja DATUM itu adalah ACUAN jadi jika acuan
yang kita pakai beda maka koordinat juga akan beda.
Catatan:
BAKOSURTANAL menggunakan datum WGS 84.
Penjelasan di
atas akan berhubungan dengan penggunaan GPS kita, Jika peta kita dibuat oleh
BAKOSURTANAL maka SETTING yang harus dilakukan adalah DATUM PETA (WGS 84)
FORMAT POSISI (GEOGRAFIS atau UTM).
Peta
adalah bayangan rupa bumi yang digambarkan di bidang datar (bidang gambar) yang
dapat dipertanggung jawabkan secara matematis atau dengan kata lain mempunyai skala tertentu.
Peta tanpa skala akan mengurangi arti dan fungsinya atau bahkan tidak
berguna. Skala peta menunjukkan ketelitian dan kelengkapan informasi yang
tersaji dalam peta. Peta skala besar lebih teliti dan lebih lengkap dibandingkan
peta skala kecil.
Jenis-jenis peta bisa dikelompokkan berdasarkan isi, skala,
penurunan serta penggunaannya.
Pengelompokan peta berdasarkan isinya: seperti, Peta
Hidrografi (Peta Bathymetri), Peta Geologi, Peta Kadaster (peta kepemilikan
tanah), Peta Irigasi (jaringan saluran air) dan lain-lain.
Pengelompokan peta berdasarkan skalanya yaitu:
1. peta skala besar (1 : 10.000 atau lebih besar)
2. peta skala sedang (1
: 10.000 Sampai 1 : 100.000)
3. peta skala kecil (lebih
dari 1 : 100.000).
Peta berdasarkan penurunan dan penggunaan yaitu:
1. Peta Dasar, digunakan untuk membuat
peta turunan dan perencanaan umum maupun pengembangan suatu wilayah. Peta
Tematik, dibuat atau diturunkan berdasarkan peta dasar dan memuat tema-tema
tertentu.
2. Peta topografi adalah peta yang memperlihatkan
unsur-unsur asli dan buatan manusia di atas permukaan bumi. Unsur-unsur
tersebut dapat dikenal maupun diidentifikasi dan pada umumnya untuk
memperlihatkan keadaan yang sesungguhnya.
Pengertian lain
mengenai peta topografi ada dua,
yaitu:
a. Peta yang menggambarkan relief permukaan
bumi beserta bangunan alami maupun buatan manusia yang ada di atasnya.
b. Peta yang menggambarkan relief/sifat
permukaan bumi yang digambarkan dengan garis kontur.
Peta
merupakan media untuk menyimpan dan menyajikan informasi tentang rupa bumi
dengan penyajian pada skala tertentu. Untuk memudahkan pengelolaan dan
pencarian, dibuat indeks peta dalam bentuk teks atau grafis. Gambar unsur rupa
bumi pada skala tertentu tidak selalu dapat disajikan sesuai ukurannya karena
terlalu kecil untuk digambarkan. Bila unsur itu dianggap penting untuk
disajikan, maka penyajiannya menggunakan simbol gambar tertentu.
Suatu peta bernilai informasi tinggi jika di dalamnya memuat
unsur-unsur, di antaranya adalah:
-
skala
peta
-
informasi
ketinggian (kontur)
-
informasi
arah (biasanya utara peta)
-
koordinat
-
legenda
-
indeks
peta dan unsur-unsur lain yang dipandang perlu.
GIS Dalam bahasa Indonesia adalah system informasi
geografis (S I G) adalah suatu system informasi kegeografisan yang berbasis
komputerisasi yang di gunakan untuk mengolah, menganalisa dan menyimpan suatu
data geografis.
GIS itu sendiri pada
awalnya tercetus karena proses pembuatan peta dan outputnya, jaman dulu peta di
olah secara manual, analisa juga manual dan outputnya berupa hardcopy. Seiring
berkembangnya teknologi maka tercetuslah suatu system pembuatan peta dan output
yang dialakukan secara komputerisasi yang lebih cepat, murah dan efisien.
GIS saling terintegrasi
antara beberapa komponen yaitu:
1. Hardware
(Komputer)
2. Software
(mapsource, global mapper, arcview, arcgis dll)
3. Data
(data GPS, data Google earth dll)
4. Manusia
(operator /teknisi)
5. Metode
(cara/teknik pengambilan data/ketentuan standar dll)
Penjelasan
1. Hardware,
Spesifikasi peralatan komputer, spek computer yang diperlukan tergatung pada
jenis software yang di pakai, biasanya paling minimum pentium 4 ram 2 giga,
akan lebih bagus lagi apabila ada tambahan video card
2. Software,
yaitu suatu suatu program yang mendukung dalam GIS dan pada umumnya software
yang digunakan tidak hanya satu, alasanya hanya untuk mempermudah dalam
pengerjaan project GIS. Menurut pengalaman penulis yang menggunakan beberapa
software yang digunakan ada kekurangan dan kelebihan pada beberapa software
sehingga saat melakukan project GIS semua software itu di gunakan, selain
alasan kemudahan juga.
Menurut penulis
beberapa software itu dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu, Software transfer,
software converter dan software pengolahan.
a.
Software Transfer (Mapsource, Basecamp)
Mapsource
digunakan untuk mentransfer data GPS untuk type 60 dan 76 kebawah sedangkan
Basecamp digunakan untuk mentransfer data GPS untuk type 62 dan 78 serta
sejenisnya. (software Transfer untuk GPS diangkat karena sesuai dengan studi
kasus lapangan kita nanti)
b.
Software converter (Global Mapper)
Karena
ada keterbatasan software GIS dalam mebaca data maka perlu ada converter data
sehingga mampu di baca software. Untuk Global Mapper hampir semua file data GIS
mampu di bacanya dan mentrasfernya ke format apapun.
c.
Software pengolahan
Adapun
software-software yang bisa digunakan untuk mengolah data diantaranya: Arcview,
Autocad, mapinfo, arcgis, Quantum Gis dll
3. Data,
Umumnya Pada GIS data itu berupa data vector, data atribut dan data raster.
a.
Data Vektor
1. Point
(titik)
2. Line
(garis)
3. Area
b.
Data Atribut
Data
keterangan atau data penjelasan, misalnya data garis atributnya jalan Ahmad Yani
c.
Data Raster
Yaitu
data berbentuk image/gambar, misalnya data Foto satellite google earth, data
hasil scan peta.
selain data
atribut semua data harus bereferensi spasial atau lokasi, sederhanya data
tersebut harus memiliki kordinat kebumian.
4. Manusia,
GIS sangat tergantung terhadap sumberdaya manusia, yaitu orang yang mengerti
GIS dalam pengoperasian teknologinya.
5. Metode,
Cara menerapkan teknologi GIS baik dari pengambilan data, pengolahan data
bahkan hingga tahap analisa data.





















